Kisah Negara Kaya, Dokter Pegang Sebentar, Bayar Berjuta-Juta

Pemandangan RS Mount Sinai saat Fener Greek Patriarch Bartholomew dirawat di New York, Amerika Serikat pada 3 November 2021. “Menyusul hasil pemeriksaan di Mount Sinai Hospital Manhattan, serta konsultasi dengan dokter, All- Holiness Ecumenical Patriarch Bartholomew akan dirawat di rumah sakit sore ini untuk angiogram yang akan mengevaluasi kebutuhan pemasangan stent,

Menemui dokter untuk pemeriksaan kesehatan merupakan salah satu kegiatan yang biasanya dilakukan. Namun terkadang, kunjungan ke dokter tak menyelesaikan persoalan kesehatan tetapi menambah penderitaan.

Majalah asal Amerika Serikat (AS), TIME, mengungkapkan bagaimana pengalaman para pasien di negara itu yang menemui dokternya. Meski lama membuat janji, pemeriksaan hanya sebentar meski tagihannya sangat tinggi.

Dituliskan bagaimana pasien menunggu bertemu dokternya selama berminggu-minggu. Tapi, saat hari pemeriksaan tiba, pasien pun kembali harus menunggu selama beberapa menit sebelum akhirnya dipanggil ke ruangan dokter.

“Kemudian anda bicara dengan dokter Anda (jika Anda dapat menyebutnya berbicara, karena dia kebanyakan menatap layar komputer), selama 10 menit sebelum Anda kembali ke lobi dengan perintah laboratorium untuk menguji darah Anda,” papar media itu, dikutip Selasa, (28/2/2023).

“Beberapa minggu setelah Anda mendapatkan hasil, tagihan datang melalui pos. Anda ditagih ratusan dolar untuk pekerjaan darah. Janji temu selesai dalam hitungan menit, tetapi rekening bank Anda akan merasakan efeknya untuk waktu yang lama,” tambahnya.

Ya, di AS, berkunjung menuju dokter mungkin tidak pernah menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi sebagian besar pasien. Pada tahun 2019, bahkan sebelum pandemi Covid-19, sebuah survei Ipsos menemukan bahwa 43% warga AS tidak puas dengan sistem medis mereka.

“Pada tahun 2022, tiga tahun setelah pandemi, hanya 12% orang dewasa AS yang mengatakan perawatan kesehatan ditangani ‘dengan sangat’ atau ‘sangat’ baik di AS,” menurut jajak pendapat dari Associated Press-NORC Center for Public Affairs Research.

Selain itu, warga Negeri Paman Sam juga membayar mahal untuk perawatan yang mereka nilai sangat buruk. Diketahui, warga AS menghabiskan lebih banyak per kapita untuk perawatan kesehatan daripada negara maju lainnya di dunia tetapi memiliki hasil kesehatan di bawah standar.

“Harapan hidup rata-rata lebih rendah di AS daripada di negara maju lainnya, dan sekitar 60% orang dewasa AS memiliki penyakit kronis. Sekitar 10% populasi tidak memiliki asuransi kesehatan,” tambah tulisan itu.

Dan layanan pelanggan menyebalkan. Pasien AS lelah menunggu berminggu-minggu atau berbulan-bulan untuk janji temu yang selesai dalam hitungan menit. Mereka disebutkan jengah dengan harga tinggi dan tagihan kejutan serta perlakuan layaknya barang dan bukan manusia.

Jen Russon, seorang guru bahasa Inggris berusia 48 tahun dan ibu dua anak dari Florida, mengatakan ia tidak dapat mengingat satu pun pengalaman positif yang dia alami dengan seorang dokter.

Ia mengaku berjuang untuk menyeimbangkan US$ 400 yang dibayarkan keluarganya dalam biaya asuransi bulanan dengan apa yang digambarkan sebagai pengalaman perawatan tidak menyenangkan.

“Saya berharap kami bisa melihat dokter hewan kami, karena mereka benar-benar menghabiskan banyak waktu dengan pasien mereka,” ujarnya membandingkan dengan dokter hewan.

Penyebab perlakukan buruk ini sendiri beragam. Seorang profesor ilmu psikologi di Kent State University, Jennifer Taber, mengatakan perguruan tinggi hanya mempersiapkan cara praktek menjadi dokter tapi tidak menghasilkan individu yang siap untuk melayani dengan kepribadian yang baik.

“Pasien belum tentu ingin kembali ke dokter yang tidak mereka sukai,” katanya. Bahkan gerakan kecil, seperti melakukan kontak mata atau mencondongkan tubuh ke arah pasien saat berbicara, dapat membantu membangun hubungan yang kuat,” kata Taber.

Pandemi juga memperburuk kondisi ini. Pada saat Covid-19 melanda, dokter mulai mengalami kelelahan dan kejenuhan. Menurut satu survei baru-baru ini, 30% dokter AS mengatakan mereka merasa lelah pada akhir tahun 2022.

“Kejenuhan dokter hanya menambah kejenuhan pasien,” kata dokter Bengt Arnetz, seorang profesor di Michigan State University College of Human Medicine.

“Penyedia merasa stres, lelah, kurang empati. Sering kali mereka tidak melibatkan pasien, dan pasien ingin dilibatkan.”

Tak hanya itu, asuransi juga bagian dari masalah ini. Dokter dalam perawatan primer atau kedokteran keluarga seringkali berpenghasilan jauh lebih rendah daripada spesialis. Ini akhirnya membuat banyak calon dokter yang menghindari posisi ini sehingga muncul kelangkaan.

“Ketika tidak ada cukup dokter untuk berkeliling, janji temu menjadi lebih langka dan dokter menjadi terlalu banyak bekerja, terburu-buru dari janji ke janji dan tenggelam dalam dokumen.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*